Minggu, 17 September 2017

My Top 20 Do As Infinity Songs So Far

Harusnya postingan ini dibuat paling enggak dua minggu lalu ya, pas banget ketika artisnya didatangkan untuk perform di Jakarta. Mohon permaklumannya ya, hehe. Yang pasti, diundangnya Do As Infinity untuk pertama kalinya manggung di Indonesia dengan jadi bintang tamu Nakama Festival 2017 di Ancol, 3 September lalu, sertamerta membangkitkan lagi desire gw *wink wink* untuk mendengarkan lagi lagu-lagu mereka. Apalagi penampilan mereka di sini waktu itu cuma satu jam jadi tentu banyak lagu favorit gw yang nggak sempat dinyanyikan. Setelah gw nonton gw malah jadi makin sering memutar lagu mereka. Maka, naturally gw tergerak untuk bikin postingan 20 lagu Do As Infinity terfavorit gw sepanjang masa.

Do As Infinity's live performance in Indonesia (finally) happened in 2017. We want more please... \(^o^)/

Sedikit latar belakang, Do As Infinity adalah artis/band Jepang yang bertanggungjawab atas kesukaan gw pada J-Pop. Zaman masih SMA, awal era 2000-an *go figure*, gw langsung tertarik ketika pertama kali dengar secuplik lagu "Fukai Mori" di akhir serial animasi Inu Yasha, karena selain melodinya catchy, ada vibe berbeda dari lagu anime/J-Pop yang sebelumnya gw tahu. Vokal Tomiko Van manis tapi "gagah", dan musiknya adalah pop-rock dengan sedikit sentuhan elektronik tetapi punya depth dan otentisitas. Dalam lain kesempatan gw mulai mengulik (via teman-teman seperminatan =)) dan menemukan bahwa lagu-lagu Do As Infinity yang lain juga sama bagusnya. And just like that, I became a fan.

Ada periode gw berusaha sebanyak mungkin mendapatkan CD album mereka, yang kebetulan pernah beberapa kali tersedia di toko kaset Duta Suara atau World of Music (WoM) di Jakarta, walau kebanyakan versi impor Taiwan sehingga lumayan musti nabung dulu tiap beli T-T. Fyi, CD/kaset versi lokal yang diedarkan oleh Indosemar Sakti seinget gw hanyalah album Need Your Love (2005) dan mungkin Do The A-side (2005). Namun, justru saat-saat mereka ingin di-push untuk lebih populer di Indonesia itulah, Do As Infinity memutuskan untuk bubar jalan. Sempat syok saiah. Tetapi mereka akhirnya reuni lagi di tahun 2008, minus sang pendiri sekaligus the genius behind their music, Dai Nagao--obviously inisial namanya dijadikan dasar nama Do As Infinity (DAI). Dan masih ada sampai sekarang, tuh sampai kemarin bisa manggung di Jakarta.



Jadi, setelah 28 single, 11 album orisinal, sekian album kompilasi dan live, dan sekalipun gw nggak se-klik itu pada rilisan-rilisan mereka pascareuni, rasanya itu lebih dari cukup amunisi untuk gw bisa menarik 20 lagu yang menurut gw paling yahud dari Do As Infinity. So here goes...


Kamis, 31 Agustus 2017

[Movie] Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Gw makin menyadari kecenderungan gw untuk mencari, dan menyukai, film-film "mahal" yang sudah diramalkan akan flop. Karena itu, of course-lah gw sangat menantikan Valerian and the City of a Thousand Planets XD. Diangkat dari komik yang mungkin hanya terkenal di Eropah, film space opera ini menampilkan sepasang polisi antariksa, Valerian (Dane DeHaan) dan Laureline (Cara Delevigne, namanya susye-susye ye) dalam menyelesaikan misi antargalaksi. Basis mereka ada di Alpha, stasiun luar angkasa raksasa yang dihuni seluruh spesies di semesta. Kalau mau digampangin, ada dua macam petualangan besar yang dilakukan oleh Valerian dan Laureline, meskipun masih berkaitan. Pertama, misi mengambil "barang" langka dari sebuah pasar dimensi lain (yup =)), dan kedua adalah penyelamatan komandan mereka yang diculik karena "barang" yang didapatkan di pasar tadi. Bagian kedua ini seluruhnya terjadi di wilayah Alpha yang isinya memang aneka rupa.

Jika merindukan kisah petualangan fantasi futuristis yang riang dan seru, maka film ini adalah pelipurnya. Apalagi world-building-nya sangat menarik, mendetail, dan works, didukung persembahan rancangan visual yang keren-ren-ren banget. Gw juga suka bahwa film ini bisa selalu moving forward dalam hal setting dan perjalanan tokoh-tokohnya, ketemu dengan tokoh-tokoh dan tempat dan situasi yang selalu berganti, sebagaimana adventure seharusnya, jadi nggak mboseni. Hanya saja paruh keduanya itu nggak se-exciting yang awal, mungkin karena masuk dalam ranah intrik politik yang sebenarnya menarik--dan strangely sangat relevan dengan Indonesia, tapi jadi agak ngeberatin keasyikan yang sudah dibangun sebelumnya. Walau begitu, rasa senang menyaksikan film ini nggak sertamerta hilang. Valerian tetap sebuah film yang menyegarkan dan menceriakan, serta bikin kagum karena bisa secara maksimal memfungsikan muka nyolot Delevigne.


Valerian and the City of a Thousand Planets
(2017 - EuropaCorp)

Directed by Luc Besson
Screenplay by Luc Besson
Based on the comic book series "Valerian and Laureline" by Pierre Christin, Jean-Claude Mézières
Produced by Luc Besson, Virginie Besson-Silla
Cast: Dane DeHaan, Cara Delevigne, Clive Owen, Rihanna, Sam Spruell, Ethan Hawke, Herbie Hancock, Kris Wu, Ola Rapace, Alain Chabat, Sasha Luss, Aymeline Valade, Pauline Hoarau, Marilhéa Peillard
My score: 7/10

[Movie] War for the Planet of the Apes (2017)

Seri prekuel/reboot dari Planet of the Apes, kendati terkesan just another alat pengeruk uang ala Hollywood yang lagi kehabisan ide, ternyata selalu tampil mengejutkan. Rise of the Planet of the Apes (2011) yang seru abis, Dawn of the Planet of the Apes (2014) yang thoughtful, dan sekarang ada War of the Planet of the Apes. War tampaknya disiapkan untuk jadi penutup trilogi kisah yang bertumpu pada perjalanan sosok Caesar (Andy Serkis), pemimpin dari kaum primata yang berevolusi jadi bersifat dan berkemampuan seperti manusia, dan makin merapat pada asal-usul kisah Planet of the Apes (film pertamanya tahun 1968, atau mungkin ada yang tahu remake-nya tahun 2001), tentang primata yang makin manusiawi dan manusia yang makin hewani.

"War" di sini--sepenangkapan gw sih--mengacu pada perseteruan Caesar dengan kaum manusia demi bertahan hidup, padahal selama ini Caesar selalu mengupayakan damai. Adalah Colonel (Woody Harrelson) yang proaktif ingin menangkapi kaum primata, seolah menyangkal bahwa kaum manusia semakin tak sanggup lagi menaklukkan bumi. Buat gw, War tetap konsisten menyajikan tema yang provoking seperti film-film sebelumnya, dan itu yang bikin trilogi reboot Planet of the Apes ini jadi somewhat istimewa. Emang sih makin ke sini seolah makin dark dan moody dari segi penyajian--dan pacing melamban, hehe, tetapi War sukses jadi puncak pencapaian persembahan visual dari seri ini, dari sinematografinya yang keren gilak, beberapa pengadeganan yang thrilling dan rapi sekali, sampai ke animasi digital para primata yang makin mencengangkan saking realistisnya, yang juga bikin gw makin bersimpati secara emosional dengan tokoh-tokohnya meski gw berasal dari spesies berbeda =P.


War for the Planet of the Apes
(2017 - 20th Century Fox)

Directed by Matt Reeves
Written by Mark Bomback, Matt Reeves
Based on the characters created by Rick Jaffa, Amanda Silver
Inspired by the novel "Planet of the Apes" by Pierre Boulle
Produced by Peter Chernin, Dylan Clark, Rick Jaffa, Amanda Silver
Cast: Andy Serkis, Woody Harrelson, Steve Zahn, Karin Konoval, Amiah Miller, Terry Notary, Ty Olson, Michael Adamthwaite, Gabriel Chavarria
My score: 7,5/10

Rabu, 09 Agustus 2017

[Movie] Dunkirk (2017)

Kalau membaca nama Christopher Nolan pasti langsung kebayang film-film canggih dan high concept pokoknya pasti keren dsb. Gw juga berpikiran yang sama. Makanya, ada sedikit keterkejutan ketika oom Chris bikin film sejarah, yang notabene pasti udah ketahuan cerita dan endingnya kayak gimana =P. Dan memang benar, menyaksikan Dunkirk, nggak ada tuh jalan cerita yang penuh konsep meledakkan pikiran *maksudnya mindblowing* dan intrak-intrik ribet. "Hanya" soal tiga sudut pandang dalam peristiwa penyelamatan besar-besaran para tentara Inggris yang terkepung di pantai Dunkerque, Prancis pada masa Perang Dunia II, dengan inti cerita sesederhana tentang menyelamatkan dan diselamatkan. Namun, sisi antik oom Chris tetap mau ditunjukkan, yaitu bahwa tiga kisah ini berada dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Ada yang 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam, yang akan bersinggungan di satu titik, tetapi dituturkan berbarengan dengan gaya editing mengikuti tensi adegan di masing-masing cerita, yang langsung mengingatkan gw pada Cloud Atlas.

Sebagian besar film ini memang bertumpu pada technical marvel yang dimanfaatkan dengan baik di sini. Minim bantuan animasi digital dengan tujuan memberikan gambaran yang lebih tangible, dan tata suara yang menyatu dengan musik dibuat untuk menggiring pada sensasi berada di tengah-tengah situasi yang dirasakan tokoh-tokohnya. In a way, film ini jadinya lebih ke memberikan audio visual experience dibandingkan bernarasi--again, karena jalan ceritanya sangat lurus dan sederhana. Bercerita dalam tiga rentang waktu berbeda juga bagian dari upaya menimbulkan sensasi itu, bahwa waktu "lama" atau "sebentar" itu relatif tergantung situasinya--ibarat mobil jalan 3 kilometer dalam 5 menit terasa lebih sebentar daripada angkot ngetem 1 menit =|. Biar demikian, film ini sanggup bikin gw memetakan gambaran besar tentang apa itu peristiwa Dunkirk as a whole dan apa yang harus direfleksikan dari sana. Pada akhirnya film ini mungkin bukan karya oom Chris ter-wow buat gw, namun setidaknya sudah mencapai apa yang menjadi niatnya, ya sebagaimana karya-karyanya sebelum ini. 

NB: Sebagian besar film ini direkam menggunakan kamera IMAX, ada kali 70-an persen, dan looks really good in IMAX screen. Gw dulu pernah nulis harapan gw agar oom Chris bikin film khusus IMAX tanpa perlu yang panjang-panjang biar nggak pegel kalau ditonton di Keong Emas yang notabene gw anggap "IMAX betulan satu-satunya di Indonesia". Well, Dunkirk yang mostly IMAX dan cuma 106 menit ini yang paling mendekati harapan itu haha....walau tetep aja nggak diputar di Keong Emas T-T.


Dunkirk
(2017 - Warner Bros.)

Written & Directed by Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan
Cast: Fionn Whitehead, Harry Styles, Aneurin Barnard, Kenneth Branagh, James D'Arcy, Mark Rylance, Cillian Murphy, Tom Glynn-Carney, Barry Keoghan, Tom Hardy, Jack Lowden
My score: 7,5/10


Jumat, 04 Agustus 2017

[Movie] Let's Go Jets (2017)

Beda budaya kali ya. Kisah (nyata) orang atau orang-orang underdog yang meraih prestasi kelas dunia, kalau di Indonesia belum apa-apa udah dikasih beban harus "inspiratif" dan "nasionalisme". Di Jepang, jadinya film komedi =D. Sangat mungkin generalisasi gw tadi keliru, tetapi kalau merujuk pada Let's Go Jets, tampaknya buat orang-orang perpeleman Jepang sana, menyajikan cerita dengan gaya komikal akan lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai yang diusung, sekalipun berdasarkan kisah nyata. Seriously, Let's Go Jets ini disusun sedemikian rupa seperti sport movies fiksi adaptasi manga ataupun J-dorama yang suka agak melebih-lebihkan, dengan watak-watak spesifik seperti ada si perfect, si ceria, si minder, si somseu yang selalu merasa lebih oke dari yang lain, dst dst., dan tentu saja dimotori oleh si pengajar yang keras dan eksentrik, dengan cita-cita yang mungkin ketinggian: menang kejuaraan cheer dance tingkat SMA di Amerika Serikat--makanya judul asli film ini "chia-dan" dari "chia-dansu" penjepangan frase cheer dance =).

Apa pun detail yang sebenarnya terjadi di kisah nyatanya, susunan karakter dan jalinan cerita di film ini terbukti sangat works menjadi tontonan yang menyenangkan. Mungkin agak klise sih jadinya, dari yang nggak bisa apa-apa jadi bisa, ada momen-momen down dan harus dimotivasi lagi biar bangkit lagi semangatnya, juga sisipan soal romansa SMA, plus tentu saja ada pertaruhan ekstrakurikuler cheer dance-nya terancam ditutup karena nggak pernah berprestasi apa-apa *yaelah ^.^'*. Namun, yang memang nggak bisa gw tolak adalah film ini bisa bikin larut di antara momen lucu, gembira, dan sisi emosionalnya--yang menurut gw bagian ini diadegankan sangat menarik dan paling nggak klise. Gw sebenarnya berharap winning performance di klimaksnya bisa lebih wow lagi--ya mungkin faktor pemain bukan yang betulan latihan keras tiga tahun hehe. Tetatpi, paling penting nilai-nilai tentang kerja keras serta kegembiraanya tetap bisa tersampaikan, so it's alright.


チア☆ダン~女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話~
Chia☆Dan ~Joshi Kosei ga Chia Dansu de Zenbei Seiha Shichatta Honto no Hanashi~
a.k.a. Let's Go Jets
(2017 - Toho)

Directed by Hayato Kawai
Written by Tamio Hayashi
Produced by Tamako Tsujimoto, Atsuyuki Shimoda
Cast: Suzu Hirose, Yuki Amami, Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, Mackenyu, Miu Tomita, Haruka Fukuhara, Yurina Yanagi, Kentaro, Saki Minamino, Hana Hizuki, Takayuki Kinoshita, Yasuhito Hida, Kitaro
My score: 7/10

[Movie] Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Film Filosofi Kopi (2015) bagi gw mungkin bukan yang terbaik dari deretan film-film kece buatan Angga Dwimas Sasongko, tetapi it was probably the smartest. Makanya gw sama sekali nggak keberatan ketika katanya akan dibuat sekuelnya, dengan judul yang cukup catchy, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Kali ini si maniak kopi Ben (Chicco Jerikho) dan sahabatnya yang berotak bisnis Jody (Rio Dewanto) berupaya membangkitkan kembali kedai Filosofi Kopi mereka, yang sempat oh-so-hipster-y jadi kedai keliling di atas VW Combi modifikasi. Peluang bikin lagi kedai tetap semakin menjanjikan dengan hadirnya Tarra (Luna Maya) yang mau berinvestasi besar, dan tidak hanya akan terhenti di satu kedai saja. Namun, bercampurnya bisnis dan persahabatan, passion mula-mula yang dibenturkan dengan tuntutan untuk evolve, dan terlibatnya orang-orang baru baik secara profesional maupun emosional, membuat Ben, Jody, dan Filosofi Kopi tidak akan bisa seperti dulu lagi.

Film-film seperti dua film Filosofi Kopi ini begitu menyegarkan, karena sekalipun premis yang diangkat mungkin biasanya dianggap kurang spektakuler--walau pada akhirnya ada porsi romance lebih kental di sekuelnya, sajian dan penuturannya tetap terasa imbang, topik-topik yang ingin disampaikan bisa ditangkap dengan mudah, bukan asal lewat ataupun asal cool aja. Gw suka film ini menyoroti keharusan sebuah usaha, sekalipun itu "proyek idealis", untuk bertumbuh ataupun beradaptasi dengan berbagai perubahan dan gagasan baru, yang kemudian paralel dengan arah perkembangan karakter-karakter utama kita. Sehingga, setidaknya Ben dan Jody nggak stuck di situ-situ aja perjalanannya dalam cerita, jadinya asyik aja ngikutinnya. Buat gw momen-momen "magis" di Ben & Jody tidak sebanyak atau sekuat film pertamanya, namun vibe yang dipancarkan tetap menyenangkan, didukung pemain yang total dan kompak serta production value yang terlihat lebih plus.


Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
(2017 - Visinema Pictures)

Directed by Angga Dwimas Sasongko
Screenplay by M. Irfan Ramly, Jenny Jusuf, Angga Dwimas Sasongko
Story by Ni Made Frischa Aswarini, Christian Armantyo, Angga Dwimas Sasongko, Jenny Jusuf
Based on the characters created by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Luna Maya, Nadine Alexandra, Melissa Karim, Landung Simatupang, Whani Darmawan, Otig Pakis, Joko Anwar, Tyo Pakusadewo, Westny Dj, Aufa Assegaf, Muhammad Aga
My score: 7,5/10

Minggu, 30 Juli 2017

[Movie] Spider-Man: Homecoming (2017)

Nggak bisa nggak terbersit keheranan kenapa gitu Spider-Man versi layar lebar harus di-reboot sebanyak tiga kali hanya dalam jangka waktu 15 tahun saja. Iya sih Spider-Man itu bisa dibilang the biggest Marvel Comics character, tapi emang musti segitunya ya? Namun di sisi lain, Spider-Man: Homecoming setidaknya punya maksud dan niat yang sangat jelas: biar bisa gabung ke Avengers-nya Marvel Cinematic Universe (MCU). Konsekuensi dari ini bukan hanya perkenalkan ulang tentang sosok Spider-Man, tetapi juga menyesuaikan karakter dan ceritanya biar bisa muat ditempatkan di antara aksi-aksi Iron Man, Captain America, Thor, dkk. Jika dalam inkarnasi sebelumnya Spider-Man harus hadapai pertaruhan keselamatan yang lebih massal, maka Homecoming dibuat lebih spesifik: Spider-Man-nya masih remaja, dan persoalan yang dihadapi juga more or less berskala kecil. Yah skala kecilnya tentu dengan sentuhan Marvel, yaitu para "preman" yang memanfaatkan teknologi alien sisaan klimaks The Avengers (2012) untuk kepentingan bisnis underworld.

Rupanya gw cukup suka sama pilihan bangunan dan arah cerita yang diambil. Tak seperti origin story para superhero Marvel yang makin kesini makin terpola, Homecoming langsung menyorot pada persoalan tentang pembuktian nilai diri sebagai superhero dan menyeimbangkan antara identitas keseharian dan identitas superhero, dengan kegelisahannya masing-masing. Tone film ini pun anak muda kekinian banget, dan makin berjalan makin asyik diikuti, lengkap dengan berbagai adegan laga yang menurut gw nggak kalah seru dari film-film Spider-Man sebelumnya. Dan, poin yang gw rasa juga unggul adalah si villain Vulture (Michael Keaton) yang punya kompleksitas tersendiri, dan mampu dibuat benar-benar mengancam si jagoan kita dari berbagai sisi. Gw tetap merasa Spider-Man 2 (2014) adalah film superhero komik terbaik yang pernah ada, tetapi Homecoming buat gw termasuk pada himpunan yang bagus di antara film-film Spider-Man lain--yang sebenarnya juga nggak pernah jelek-jelek amat sih.


Spider-Man: Homecoming
(2017 - Columbia/Marvel Studios)

Directed by Jon Watts
Screenplay by Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers
Story by Jonathan Goldstein, John Francis Daley
Based on the Marvel comic book by Stan Lee, Steve Ditko
Produced by Amy Pascal, Kevin Feige
Cast: Tom Holland, Michael Keaton, Marisa Tomei, Jon Favreau, Robert Downey Jr., Jacob Batalon, Zendaya, Laura Harrier, Tony Revolori, Abraham Attah, Gwyneth Paltrow, Donald Glover, Bokeem Woodbine, Logan Marshall-Green, Jennifer Connelly
My score: 7,5/10

[Movie] Sweet 20 (2017)

Kesuksesan film Korea, Miss Granny (2014) mendorong produsernya untuk mengembangkan materi ceritanya dalam bentuk remake di berbagai negara. Remake antarnegara memang udah biasa, tetapi entah apakah sudah ada yang pernah melakukannya se-ambisius ini: udah dibikin di China, Vietnam, Thailand, Jepang, dan sekarang di Indonesia dengan judul Sweet 20, dan mungkin akan berlanjut di negara-negara lain. Emang dasar gw, gw memang baru nonton satu versi aja, itu pun bukan yang original, melainkan 20 Once Again (2015) yang diproduksi di China. Namun, bisa kebaca bahwa film-film ini punya struktur yang sama, urut-urutan kejadiannya persis, outcome-nya juga serupa. Beruntungnya, Sweet 20 termasuk berhasil dalam interpreting instead of just translating ke tuturan yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

Sekalipun unsur magical fantasy soal nenek yang basically for no reason at all fisiknya berubah jadi gadis 20 tahunan sebenarnya nggak terlalu akrab dalam cerita-cerita kita--dan mungkinkah itu sebabnya momen ini kayak diburu-buru di film ini?--buat gw film ini enak sekali adaptasinya. Gaya komikal-nya, humornya, referensi kultur pop-nya, nilai-nilai keluarganya, latar sosialnya--emm, nggak terlalu sih tapi ya plausible-lah--semuanya bisa nyambung dengan orang kita, sehingga nontonnya juga lebih nikmat. Tetapi, yang paling bikin nikmat adalah jajaran pemainnya yang bermain apik dan kompak, a great ensemble. Salah satu poin kesukaan gw adalah bagaimana performa Tatjana Saphira sebagai Fatma muda tetap bisa bikin gw kebayang sama performa Niniek L. Karim sebagai Fatma tua yang sebelumnya muncul hanya selama 10 menit di awal film. Kalau segala unsurnya kompak gini, dan adaptasinya juga semaksimal mungkin disesuaikan dengan pola pikir lokal, 'kan nontonnya juga jadi seneng. Pun kalau mau dibilang, buat gw Sweet 20 adalah salah satu film Indonesia paling menyenangkan di paruh awal tahun ini.


Sweet 20
(2017 - Starvision/CJ Entertainment)

Directed by Ody C. Harahap
Screenplay by Upi
Based on on the film Miss Granny written by Shin Dong-Ik, Dong Hee-Sun, Hong Yoon-Jung, Hwang Dong-Hyuk
Produced by Chand Parwez Servia
Cast: Tatjana Saphira, Niniek L. Karim, Slamet Rahardjo, Kevin Julio, Morgan Oey, Lukman Sardi, Cut Mini, Widyawati Sophiaan, Tika Panggabean, Alexa Key, Nina Kozok, Ardit Erwandha, Tommy Limmm
My score: 7,5/10


Sabtu, 24 Juni 2017

[Movie] Wonder Woman (2017)

Agak kasihan sebenarnya melihat film Wonder Woman diberi begitu banyak beban politik. Ini pertama kalinya Wonder Woman, superhero utama dari DC Comics selain Superman dan Batman, punya film layar lebar sendiri setelah 75 tahun eksis. Digarap oleh Patty Jenkins (sutradara Monster-nya Charlize Theron, serial The Killing) di saat Hollywood konon masih nggak percaya ngasih modal ratusan juta dolar kepada sutradara wanita buat bikin film blockbuster. Ditambah lagi, film ini berada di tengah-tengah ujian kesabaran kritikus dan sebagian penonton pada film-film DC Extended Universe setelah Man of Steel, Batman v Superman, dan Suicide Squad dianggap bapuk—although I tend to disagree. Kabar baiknya, film Wonder Woman bisa tetap berdiri tegak dengan semua beban itu, karena hasilnya ternyata (untungnya) memuaskan.

Dirancang sebagai kisah asal muasal--jadi sebelum cerita Batman v Superman, ini film tentang awal perjalanan kepahlawanan seorang manusia sakti, dalam tuturan selurus mungkin. Seorang sosok idealis dari negeri dewata yang dihadapkan kenyataan dunia luar yang menguji prinsipnya, dan kebetulan sosok itu seorang wanita berbentuk Gal Gadot =). Kisah klasik dengan pendekatan yang klasik juga, antara dongeng, petualangan, laga, dan sentuhan sejarah fictionalized. Diperkuat dengan desain visual oke serta rancang konsep kesaktian Diana sang Wonder Woman yang seru abis—demen banget gw pas adegan ngebolakin mobil like "out of my way, bitch!" =D. Ada yang politis pun subtil saja, seperti pertanyaan-pertanyaan Diana tentang posisi wanita di peradaban "modern", dan bahwa di sini tidak ada penyorotan bagian tubuh perempuan bermotif seksual. Bisa banget sih diperingkas durasinya, tetapi film ini sudah berhasil mencapai tujuannya dalam menanamkan tentang siapa Wonder Woman itu, apa kekuatannnya, apa yang diperjuangkannya, bikin paham dan malah mungkin bikin sayang akan sosoknya.


Wonder Woman
(2017 - Warner Bros.)

Directed by Patty Jenkins
Screenplay by Allan Heinberg
Story by Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs
Produced by Charles Roven, Zack Snyder, Deborah Snyder, Richard Suckle
Cast: Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Lucy Davis, Elena Anaya, Saïd Taghmaoui, Ewen Bremner, Eugene Brave Rock
My score: 7,5/10

Kamis, 15 Juni 2017

[Movie] Critical Eleven (2017)

Terlepas dari statusnya sebagai film yang diangkat dari novel yang katanya best-selling--again untuk blantika novel gw selalu pakai "katanya" karena gw emang nggak ngikutin, gw menemukan bahwa apa yang mau diceritakan di Critical Eleven termasuk menarik. Layaknya mengutip dari berbagai curhatan radio dan acara konsultasi rumah tangga, film ini ingin menggambarkan ungkapan bahwa tahun-tahun pertama pernikahan adalah masa-masa terberat yang menentukan lembaga ini akan lanjut atau tidak. Film ini cukup menunjukkan beberapa contoh detailnya, mengenai pengaruhnya di karier, relasi dengan keluarga besar, hingga suka-duka perihal keturunan. Ketika banyak film roman mengagungkan cinta sebagai faktor tunggal dan pernikahan sebagai tujuan akhir, film ini bisa mengarahkan ke pandangan yang sebenarnya sudah banyak yang tahu tapi terkesan ditutuptutupi oleh tim PR dan marketing jasa wedding: bahwa kehiudpan setelah pernikahan adalah sebuah perjuangan yang bisa jadi lebih berat daripada mendapatkan cinta itu sendiri.

Namun, Critical Eleven tidak jatuh jadi sebuah film depresif seperti Revolutionary Road, misalnya. Film ini masih dibawa cenderung lebih ringan, lebih ke arah roman dewasa nan mellow. Ini bisa jadi fortunate sekaligus unfortunate. Fortunate karena diperankan dengan apik oleh deretan pemain kelas wahid, yang tampak articulate dalam merepresentasikan cerita yang hendak diangkat sehingga begitu believable, visual film ini juga cerah, cantik, berisi, dan "mahal". Unfortunate-nya adalah mungkin isu utama yang diangkat terlalu berat untuk dikemas ringan. I mean, diawali dengan begitu manis, most of the rest ternyata begitu sendu, sehingga harus terus diingatkan bahwa film ini bukan soal so sweet-so sweet-an seperti yang mungkin tersugesti di posternya. Dan, seandainya diizinkan melepaskan faktor fan-service-ing penggemar novelnya, gw tampaknya akan lebih menikmati film ini bila dituturkan lebih ringkas, dan jumlah karakter lebih ramping, hehe. Tapi udah cukuplah untuk saat ini.


Critical Eleven
(2017 - Starvision/Legacy Pictures)

Directed by Monty Tiwa, Robert Ronny
Screenplay by Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, Ika Natassa
Based on the novel by Ika Natassa
Produced by Chand Parwez Servia, Robert Ronny
Cast: Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Widyawati Sophiaan, Slamet Rahardjo Djarot, Revalina S. Temat, Astrid Tiar, Hannah Al Rashid, Hamish Daud, Refal Hady, Anggika Bolsterli, Aci Resti
My score: 7/10