Minggu, 31 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Films of 2017


And finally, gw akan menggelar senarai 10 film terfavorit gw, yaitu film-film yang udah gw tonton *yaiyalah* yang dirilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2017. Seperti biasa, penyusunannya tidak selalu berdasarkan "terbaik" atau tinggi-tinggian nilai, tetapi lebih kepada tingkat kepuasan gw saat menontonnya, atau yang selalu keingat, atau bahkan yang tetap mengesankan atau at least menyenangkan ketika ditonton ulang, sekalipun belum sempat-sempat juga ditulis review-nya *eh*.

Namun, sebelum itu, gw akan menyampaikan 5 film runner-up alias special mention yang kebetulan tidak sampai di 10 besar. Mereka akan gw sebut dalam urutan abjad.




The Great Wall, directed by Zhang Yimou
Ringkas, nggak macem-macem, seru, megah, gambar cakep, dan  representatif-diplomatis soal budaya. Film ini keren. Apelu apelu…=p

The Greatest Showman, directed by Michael Gracey
Interpretasi biografi tokoh nyata dalam bentuk musikal yang ringan, menyenangkan, menghangatkan, berwarna, dan lagunya ena-enaa…

Hidden Figures, directed by Theodore Melfi
Membicarakan rasisme lewat kisah orang-orang tersembunyi di balik proyek antariksa NASA, dengan style yang cerah dan optimis, tanpa kehilangan fungsi menginspirasi.

Kong: Skull Island, directed by Jordan Vogt-Roberts
Kong yang bad-ass, visual keren, penuturan yang berenergi, tensi yang terjaga, pokoknya rollercoaster ride yang seru. Pencapaian yang sangat baik untuk ukuran upaya ngeruk duit dari materi lawas hehe.

Karena kita semua butuh kisah blockbuster baru dan fresh, dan film ini menyajikan itu. Meski ada kekurangan *uhuk pemain uhuk*, visual fantastis dengan kisah yang nggak dangkal bikin gw cukup kesengsem sama film ini.





Baiklah, silakan scroll untuk melihat 10 film terfavorit gw tahun 2017 ini. Dalam urutan mundur ya.








10. Split
directed by M. Night Shyamalan

Sekali lagi gw katakan, keahlian M. Night Shyamalan bukan pada bikin the-so-called "twist", tetapi pada pengarahan yang tidak seperti sutradara komersial kebanyakan. Memasukkan tokoh berkepribadian jamak dalam genre thriller-horor, Split membawa kembali Night pada tuturan cerita berkonsep besar dalam lingkup yang kecil, dan justru di situlah misteri dan ketegangan berhasil dibangun tanpa harus berbelit-belit.






9. Kartini
directed by Hanung Bramantyo

Gw senang ada biografi seperti ini. Bukan cuma cerita tentang seseorang dan pencapaiannya, dan informasi-informasi terkait. Melainkan juga ada pemikiran, ada kegelisahan, ada kelemahan, dan, secara filmis, ada imajinasi dan interpretasi. Film Kartini jadi beda karena berhasil mengajak gw yang hidup di masa kini menyelami kehidupan terdalam Kartini, dan memahami kenapa kisahnya tetap relevan sampai sekarang.






8. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
directed by Mouly Surya

Sebuah unjuk ide dalam berbagai simbol, tapi mampu berjalan sebagai kisah yang utuh tanpa bikin bingung. Pemilihan lokasi dan budaya menimbulkan kesan anakronistik, ada rasa ganjil tapi nevertheless indah.






7. Arrival
directed by Denis Villeneuve

Agak selow for my taste, namun pemaparan konsep ceritanya menurut gw sangat baik, dan misterinya juga dibangun dengan rapi, ditambah pembawaan karakter yang emosional. Apalagi, film ini mengambil satu sisi yang jarang diangkat dalam film-film tentang kedatangan alien: linguistik. Hehe.






6. Baby Driver
directed by Edgar Wright

Mungkin bukan favorit gw dari sutradara Edgar Wright, tetapi ide gila menggabungkan laga kriminal dengan romansa dengan musik—sampai ke gerak-gerik adegannya juga harus sesuai musiknya—jelas haram untuk diabaikan. Bahwa ide gila itu disajikan dengan apik dan asyik membuatnya semakin layak untuk diingat.






5. Wonder Woman
directed by Patty Jenkins

Di luar "politik" bahwa ini film superhero berbujet raksasa yang diarahkan sutradara wanita, dan Gal Gadot emang cuakep.bangett, buat gw Wonder Woman adalah salah satu  film DC Comics masa kini yang ceritanya paling nggak ribet, tetapi itulah yang bikin nikmat ngikutinnya. Film yang ringan namun dikemas dengan berkelas, serta nggak grasa-grusu dalam membangun sosok si superhero, malah bikin pengen menantikan aksi-aksi selanjutnya.






4. Pengabdi Setan
directed by Joko Anwar

Baik dalam genrenya, maupun dalam lingkup film nasional tahun ini, Pengabdi Setan versi baru ini menurut gw adalah yang terunggul. Tak cuma dari craftmanship produksinya yang sangat mumpuni, penulisan dan worldbuilding yang cermat, karakterisasi kuat, ataupun kejagoannya mempermainkan rasa takut penonton. Tetapi film ini juga punya daya pikat yang berdampak hebat, bagaimana berbagai momen dan unsur film ini bisa mudah nyantol di ingatan dan jadi bahan pembicaraan yang asyik. 






3. Coco
directed by Lee Unkrich

Ada kelegaan ketika Pixar mempersembahkan sebuah karya yang tidak hanya bertumpu pada high concept atau terlalu kelihatan metafora yang berat-berat. Coco buat gw adalah film Pixar yang paling enak banget dinikmati di beberapa tahun belakangan, dengan kisah tentang keluarga, musik, serta tradisi yang konsepnya terbilang sederhana (ya mungkin karena kita juga datang dari budaya yang percaya afterlife), tetapi mampu memunculkan banyak makna yang dapat ditangkap semua kalangan. Bangunan mitologinya rapih, porsi lucu dan harunya kena, pokoknya tanpa terlalu banyak mikir ini itu, hanya pure joy, namun nggak mengabaikan bobot. Dan animasi cantek dan canggihnya Pixar jelas semakin mengangkatnya.






2. Silence
directed by Martin Scorsese

Kalau nonton film nyaris setengah jam pas midnight tapi masih bikin melek dan bahkan engaged, padahal filmnya drama cukup berat dan tak satu pun adegannya yang uplifting, berarti minimal film tersebut bernilai istimewa. Dan memang, di tengah nilai produksi dan sinematografi yang kelas atasnya atas, pada akhirnya film ini paling menohok dari cerita yang diangkat, serta penuturannya yang nggak neko-neko. Di satu sisi ini jadi semacam gambaran intens tentang perjuangan mempertahankan iman di tengah aniaya fisik dan psikologis terstruktur nan kejam, namun di sisi lain juga menjadi gelaran diskusi argumen kedua pihak yang terpapar jeli.











1. La La Land
directed by Damien Chazelle

Seperti sudah lama tidak seterkesan ini saat menonton sebuah film di bioskop. Nonton tanpa ekspektasi terlalu tinggi—karena seklias kelihatan ini adalah musikal dengan produksi yang lebih low-key dan nggak seakbar Moulin Rouge atau bahkan Mamma Mia. Toh emosi gw tetap teraduk saat menonton dari detik pertama hingga akhir. Nggak hanya dari gerak dan lagunya yang sampai sekarang masih lumayan menghantui gw, tetapi juga oleh karakter dan arah cerita yang dengan mudahnya merusak pertahanan skeptisisme, baik secara logika maupun rasa, sampai-sampai selalu teringat sukacita saat menontonnya pertama kali itu. Saking puas lahir batin, gw merasa berutang pada diri sendiri untuk mengulang nonton selama masih diputer di bioskop, walau akhirnya hanya sampai ke kali kelima saja heuheu.





That's it for 2017. Happy new year guys!!

Year-End Note: The 10 Indonesian Films of 2017

Kok jadi rutin ya ^_^; . Rupanya gw kembali terpanggil bikin postingan khusus film Indonesia, jadi dalam tiga tahun terakhir gw selalu bikin di akhir tahun, padahal niat awalnya cuma insidental saja--kalau tahun tersebut film Indonesia lagi banyak yang bagus, hehe. Tetapi, ini mungkin didorong oleh perfilman Indonesia yang belum memutus asa sejak the big comeback awal era 2000-an, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Apalagi, tahun 2017 semakin memperpanjang optimisme terhadap kelangsungan film kita, mulai dari makin banyak film dengan penjualan tiket yang tinggi, banyak film masuk festival internasional bergengsi, hingga standar nilai produksi yang semakin tinggi. Bolehlah disebut beruntung mereka yang gemar menonton dan memperhatikan film Indonesia di masa-masa ini.

Jadi, sepertinya gw sangat perlu membuat catatan khusus pribadi dalam bentuk, tentu saja, senarai film Indonesia paling berkesan buat gw sepanjang tahun 2017 ini--gw batasin yang rilis di bioskop komersial dalam tahun ini. Seperti postingan tahun-tahun lalu, kali ini gw urutkan berdasarkan abjad, bukan bikin pemeringkatan, karena di sini gw bukan mau menilai, menghakimi mana yang lebih dari yang lain. Senarai ini adalah bentuk penghargaan gw terhadap film-film ini, yang sudah meninggalkan jejak di blantika sinema dengan kekuatannya masing-masing. Mari kita mulai.







5 Cowok Jagoan
sutradara Anggy Umbara

Salah satu film lokal paling menghibur tahun ini. Film komikal yang all out, seperti chanelling film-film laga komedi absurd Jepang, tapi dengan jokes dan referensi yang lebih gw paham. Tentu saja, berhubung ini filmnya Anggy Umbara, film serba konyol ini tetap mampu tampil 'mahal' dengan production value tinggi, penggarapan laga dan tata gambar yang serius, serta imajinasi yang dituturkan dengan cara yang exciting. Oh, iya, film ini memang ada kaitannya sama film lawas 5 Cewek Jagoan, sort of.






Bid'ah Cinta
sutradara Nurman Hakim

Dengan topik yang diangkat tentang perbedaan aliran dalam satu masyarakat beragama yang berpengaruh pada percintaan dua insan muda, gw merasa sayang film ini kurang banyak yang notice saat dirilis di bioskop. Padahal, film ini dituturkan dengan sangat komunikatif, sensible, mewakili berbagai sudut pandang terhadap topik yang dibahas, dari beragam karakter yang sedikit banyak mencerminkan keadaan sekarang, sehingga sangat mudah terhubung dengan penonton. Itu dan ensemble cast-nya yang kompak dan mumpuni.

  




Dear Nathan
sutradara Indra Gunawan

Boleh aja memandang sebelah mata menganggap ini just another teenage alay movie. Jujur, gw juga merasa materi ceritanya memang tidak banyak beranjak dari kisah cinta SMA biasanya, lengkap dengan twists and turns dramatis yang jadi kesukaan para alay remaja masa kini. Namun, Dear Nathan adalah contoh film remaja yang perlakuannya tepat. Cerita tentang remaja dengan logika remaja, bukan cerita remaja dengan gaya dewasa ataupun cerita dewasa dari fantasi alay remaja. Sehingga, hasilnya sebuah karya yang digarap rapi, believable, well-acted, yang justru menunjukkan kedewasaan para penggarapnya.






Filosofi Kopi 2: Ben & Jody
sutradara Angga Dwimas Sasongko

Untuk kontennya, film ini kembali berhasil menampilkan tontonan yang menyenangkan nyaris setara film Filosofi Kopi pertama, entah itu dari pemain, gambar (yang makin bagus), musik, drama, dan humornya. Namun, yang tak kalah penting, film ini bisa jadi studi kasus bagaimana mengembangkan sebuah ide, karakter, dan brand, dalam medium yang berkelanjutan. Sosok Ben dan Jody sudah berlanjut lebih jauh dari sebatas cerita pendek karya Dewi Dee Lestari, perjalanan mereka pun jadi unpredictable, dan gw sangat nggak berkeberatan kalau bakal ada film ketiga kelak.





Kartini
sutradara Hanung Bramantyo

Ini adalah film Hanung Bramantyo pertama yang gw bisa bilang 'bagus!' tanpa hambatan =P. Sisi dramatis emosionalnya masih ada, tetapi konsep dan penggarapan keseluruhan film ini cenderung beda dari film-film biografi terkemuka Indonesia (yang mostly melibatkan Hanung juga). Bukan sekadar riwayat tokohnya, tetapi juga soal pemikiran dan kegelisahannya, sehingga penyampaiannya pun jadi lebih leluasa, termasuk dengan adanya adegan-adegan fantasi, dan karakterisasinya yang boleh dibilang "diterjemahkan" agar gampang dipahami generasi kini.






Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
sutradara Mouly Surya

Film ketiganya ini semakin mengukuhkan Mouly Surya sebagai sineas dengan visi kuat. Merangkum ide pemberdayaan perempuan, dengan plot pembalasan dendam, serta bangunan latar lawless land ala film koboi. Agak ganjil, tetapi ketika sudah masuk ke dalam dunianya dan mulai sinkron dengan ritmenya, film ini begitu captivating. Visual indah yang mengemas simbol-simbol--tapi tanpa ngeh sama simbol pun tetap bisa diikuti dengan lancar kok. Pengarahan penuh perhitungan dan sesekali menyelipkan humor, disokong suara dan musik yang mencengkeram, dan tentu saja performa akting para pemain yang tanpa cela. Gw mungkin masih prefer film Mouly sebelumnya, What They Talk About When They Talk About Love, but still Marlina is a beautiful work







Night Bus
sutradara Emil Heradi

Di luar problem teknis presentasinya, gw merasa perlu memberi tempat di senarai akhir tahun ini, karena ada kemungkinan film dengan cerita seperti ini akan sangat jarang dibuat. Meminjam latar belakang dari sempat diberlakuannya daerah operasi militer di beberapa daerah di Indonesia, film thriller ini sukses dalam membangun cerita, membangun ketegangan, dan menyampaikan standpoint yang tegas tentang dampak situasi konflik terhadap pihak-pihak yang bertikai maupun yang terseret di tengah-tengahnya.






Pengabdi Setan
sutradara Joko Anwar

Selain serem bangsat (itu sih karena gw penakut ya), Pengabdi Setan adalah salah satu contoh film horor lokal yang berhasil membangun dunianya sendiri secara utuh, dan tetap seram, tanpa perlu bergantung pada urban legend yang sudah dikenal, atau statement "berdasarkan kisah nyata", atau "eh ada hantu beneran ketangkep kamera loh" -_-. Solidnya film ini murni bergantung pada penulisan yang cakap, karakter, dan craftmanship, dan itu keren banget.






Sweet 20
sutradara Ody C. Harahap

Gw sempat ada praduga tak enak ketika franchise Miss Granny ini sampai di Indonesia, karena setahu gw setiap adaptasinya tidak bisa "bebas", sudah ada guideline-nya dari yang punya merk sehingga filmnya akan, yah, 75-85 persen sama dengan aslinya, cuma beda bahasa. Praduga itu salah, Sweet 20 bisa dengan mulus diterapkan ke dalam kisah yang mudah diterima oleh gw sebagai orang Indonesia. Dari konteks latarnya, humornya, dialog dan pembawaannya dari cast yang keren, semua diadaptasi secara mulus menjadi sebuah komedi yang colorful dan menyenangkan.






Turah
sutradara Wicaksono Wisnu Legowo

Agak salah mengira bahwa film ini akan sepretensius pemilihan judulnya--'turah' itu bisa diartikan lebihan atau sisa, gw agak overthinking bahwa mungkin film ini mencoba menyimbolkan judul dengan kisah orang-orang 'tersisa' dari masyarakat ^_^'. Rupanya film ini termasuk lugas dalam bertutur, menyatakan keresahan dengan apa adanya tentang kemiskinan dan kehidupan yang terpinggirkan, persoalan sosialnya juga konkret. Pula kesederhanaan penggarapannya tetap mampu menunjukkan kepekaan artistik dari para kreatornya, sehingga bikin terbawa untuk ikutin terus sampai akhir. Padahal nggak pake musik latar lho.
Review di sini






Sabtu, 30 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2017


Seperti gw singgung di postingan Year-End Note sebelum ini, pola mendengarkan musik gw di tahun 2017 cukup bergeser, seiring makin ramahnya koneksi internet dan penyediaan aplikasi streaming. Ini berlaku juga saat gw mau mendengarkan sebuah album. Dalam benak gw sih sebenarnya masih ingin menganggap yang tersedia di internet adalah preview sampai gw (sanggup) membeli CD-nya. Hanya masalahnya (1) harga CD di sini sudah naik bahkan nyaris 100% dibandingkan harga lima tahun lalu; dan (2) toko CD sudah pada bertutupan. Time is changing, sehingga sambil sebisa mungkin beli CD album yang gw suka (pun kalau nemu toko yang ngejual), untuk sementara gw berdayakan yang ada dulu, heuheu.

Anyway, meneruskan tradisi, gw akan menggelar 10 album yang paling gw sukai sepanjang tahun 2017. Syaratnya nggak muluk-muluklah. Album yang bagus 'kan biasanya yang sebagian besar atau semua lagunya bagus, ditambah faktor lain seperti penyusunannya yang enak atau tema/konsep yang ditawarkan menarik. Ya gampangnya sih indikasinya kalau didenger ulang-ulang tetap enak. Dari album-album yang gw coba dengar sepanjang tahun ini, berikut 10 yang favorit.









10. RAN
RAN

RAN memberi judul album dengan nama mereka sendiri baru pada album yang kelima. Entah apa alasan di balik keputusan tersebut, namun gw juga merasa bahwa album ini seperti kompilasi dari sound yang pernah mereka hasilkan dalam empat album ke belakang, yang dituangkan dalam lagu-lagu baru. Nggak ada yang salah, toh gw suka sama album-album mereka sebelumnya (dan selalu masuk top 10 tahunan gw lho), naturally gw bisa menikmati album ini. Tetapi, yang lebih menggembirakan adalah ada perkembangan dalam penulisan lirik, yang lebih beragam diksi dan topiknya, dan lebih enak bertuturnya.







9. Superfly 10th Anniversary Greatest Hits “LOVE, PEACE & FIRE”
Superfly

Sebuah album best-of yang panjang, 39 tracks (kalau download atau streaming) dalam tiga disc (kalau beli fisik) dari band pop-rock berwarna vintage beranggota tunggal ini, mencakup 10 tahun sejak merilis rekaman bersama major label. Berulang kali gw sering ungkit bahwa album best-of dari artis-artis Jepang selalu menarik karena kontennya melimpah dan terkonsep. Tiga disc di sini juga mewakili tiga tema: Love yang banyak ballad-nya, Peace yang banyak bertema motivasi, dan Fire yang paling nge-rock menciptakan suasana "membara". Alhasil, menikmati 39 lagu dalam sekali putar jadi nggak menjemukan karena ada pembabakannya, serta sangat komprehensif mewakili Superfly, yang menurut gw adalah salah satu artis J-Pop terbaik di era milenium.







8. One More Light
Linkin Park

Kentara sekali Linkin Park mencoba ingin merefleksikan fase yang lebih dewasa dan lebih kalem. Bayangkan lagu-lagu cool down dalam album-album mereka sebelumnya (macam "Breaking the Habit", "Shadow of the Day", "The Little Things Give You Away", "Irridescent", atau, well, "My December") dan semua itu jadi satu album, maka hasilnya akan seperti One More Light ini. Terlepas unsur rock-nya yang makin diredam diganti hiphop, elektronika, pop, dan folk—yang semuanya pernah dibawakan mereka tetapi tidak semenonjol hard-rock-nya, gw nggak bisa menyangkal bahwa album ini berisi lagu-lagu yang sangat ramah di kuping. Udahlah, emang enak-enak kok lagunya, karena memang sepertinya ingin difokuskan pada nada ketimbang teriak-teriak belaka.

Liriknya sendiri masih mengenai angst dalam tata kata yang gampang dicerna seperti Linkin Park biasanya. Namun, di sisi lain, menyimak liriknya (dan lagu-lagu terdahulu mereka, basically) jadi bikin heartbroken setelah mengetahui vokalis Chester Bennington meninggal di tengah-tengah upaya melawan depresi—hanya dua-tiga bulan setelah perilisan album ini, seolah gw akhirnya benar-benar tahu makna terdalam lagu-lagu tersebut. Sedih banget sebenarnya, tetapi, gw termasuk yang tidak kecewa dengan karya terakhir Linkin Park bersama Chester ini.







7. La La Land (soundtrack)
various artists

I mean, come on. Gw suka film musikal dan La La Land adalah salah satu yang terbaik, dan tentu saja kekuatan film musikal terdapat pada lagu-lagunya. Sejujurnya, lagu-lagu La La Land yang nyaris semuanya diramu dengan cara jazz itu, meskipun catchy, sulit untuk keluar dari konteks filmnya. Cara terbaik menikmatinya selain nonton filmnya adalah menikmati soundtrack-nya secara keseluruhan. Semua musik dan lagunya (kecuali cover lagu-lagu 80's di adegan pesta =)) ada di album ini, dan cukup mampu membangkitkan memori excitement saat menonton filmnya. Nilai lebihnya, lewat album ini bikin gw lebih fokus pada keseriusan para kreatornya dalam memproduksi setiap nada dan suara musiknya. Bahkan lagu-nya John Legend yang katanya menggambarkan "jual idealisme" pun digarap serius setara lagu-lagu pop rekaman betulan.







6. ÷ (Divide)
Ed Sheeran

Ya maap deh kalau terlalu mainstream. Perlu dicatat bahwa inilah album Ed Sheeran yang gw dengarkan paling saksama, karena gw suka pilihan style lagu-lagu yang ada di dalamnya. Nggak ada yang terlalu aneh, semuanya mulus banget masuk ke kuping. Dari yang instrumen paling minimalis hingga yang full band, dari yang pop akustik sampai yang rada hiphop, dari yang nggombal cinta sampai yang menyentuh haru. Mungkin tidak orisinal, dan definitely Sheeran pernah melakukan style serupa sebelumnya, namun saat disusun dalam satu album ini, it worked really well.







5. All Time Best Hata Motohiro
Hata Motohiro

Lega bahwa sekalipun gw punya lengkap diskografinya Hata, album best-of ini nggak lantas membosankan. Berbeda dari evergreen tahun 2014 lalu yang notabene album akustik, album ini berisi total 26 lagu rekaman orisinal dari semua single milik Hata yang rilis dalam 10 tahun sejak bergabung di major label--kecuali satu single yang nggak diciptakannya sendiri, "Altair". Gw sudah suka sebagian besar lagunya, dan rekamannya sama dengan yang sudah gw punyai lewat album-album sebelumnya, tetapi magic-nya adalah ketika disusun secara kronologis persis dari single pertama sampai terbaru, bisa menghasilkan satu album utuh yang sangat enjoyable—seolah artis-artis sana itu kalau ngerilis single sudah divisikan nanti gimana kalau disusun dalam album best-of. Yang pasti, album ini sekali lagi mencerminkan artistry dan konsistensi Hata sebagai singer-songwriter. Mau tahu gimana kerennya mas Hata lebih dari lagu "Himawari no Yakusoku", album ini cukup bisa menggambarkannya.







4. Evolve
Imagine Dragons

Sekenal gw, style dan sound Imagine Dragons itu sejak awal selalu ke sana ke mari. Benang merahnya ada, tapi satu lagu ke lagu yang lain hampir selalu dikemas beda-beda, baik itu genrenya maupun jenis instrumen yang dipakai. Album ketiga mereka berjudul Evolve, tetapi lucunya justru di album ini style dan sound mereka paling konsisten dari awal sampai akhir. Lebih banyak bunyi digital-industrial *suka-suka aja bikin istilah =P*, lebih galak di beat, lebih sedikit (bahkan nyaris tiada) gonjrengan gitar berdistorsi, dan semakin mempergunakan vokal Dan Reynolds yang laki banget itu layaknya sebuah instrumen. Yang dulunya mereka bisa rock, folk, hingga dubstep, di album ini semuanya semakin teramalgamasi, membentuk bunyi yang (tampaknya akan jadi) khas Imagine Dragons. Gw bisa bilang, ini album terfavorit gw dari mereka.








3. 24K Magic
Bruno Mars

How cool is Bruno Mars? Very. Setelah memberi penghormatan pada musik era 1970-an di album sebelumnya, Bruno kemudian mengarahkan pandangan pada hiphop-R&B khas 1980 dan 1990-an, namun masih mampu disajikan segar dan relevan di masa serba digital saat ini. Rangkaian nada dan ramuan musiknya semakin terampil, setiap track punya karakter, dari yang mellow sampai yang lonjak-lonjak, dan yang penting semuanya asyik banget didengar. Total 9 track memang rasanya terlalu singkat, tetapi semua lagu ini disusun menjadi 30 menit-an yang solid, dibuka ("24K Magic") dan ditutup ("Too Good Too Say Goodbye") dengan megah. Dan, less and less gombal lyrics =D.








2. Senandung Senandika
MALIQ & D'Essentials

Semakin yakin bahwa keputusan MALIQ & D'Essentials untuk menelurkan setiap album dengan jumlah track sedikit adalah tepat, buktinya produktivitas dan kualitas band urban-pop-agak-jazzy ini tetap terjaga sampai sekarang. Buat gw, album ketujuh mereka ini lagi-lagi sebuah karya yang elok. Secara sound, album ini meneruskan karakteristik yang diperkenalkan di album Sriwedari (2013) dan Musik Pop (2014) dengan banyak menggunakan synthesizer dan instrumen digital lainnya, tentu saja tanpa meninggalkan kekuatan melodi. Namun, kekuatan terbesar dari album ini adalah lirik-liriknya yang menuturkan beragam topik menarik, dari penghormatan kepada profesi guru, orang tua, soal fenomena media sosial, sampai "simply" tentang kegelisahan batin, dituturkan dalam pilihan kata yang cantik sekali. Bisa jadi ini album dengan lirik paling puitis dari mereka.











1. Human
Rag'n'Bone Man

If there's such thing as a "male Adele", menurut gw Rag'n'Bone Man-lah orangnya. Bukan dari lirik "galau"-nya, tetapi dari style musik dan kekuatan vokal yang menurut gw bisa disetarakan. Untuk sebuah album debut, Human itu luar biasa. Jangan terkecoh oleh penampilan "ngeri" si mas bernama asli Rory Graham ini--pasti orangnya sering dikira kalau nggak rocker ya rapper. Alih-alih, yang ditunjukkan adalah suaranya yang big dan soulful, yang rough dan heartfelt. Mengusung musik persimpangan antara blues, R&B, soul, hiphop, dan pop, setiap track di album ini dipresentasikan dengan warna-warna solid dan mendukung karakter vokalnya, notasi catchy dan irama asyik, serta lirik-lirik yang relatablemostly tentang cinta tapi nggak juga soal sakit hati semua, sehingga memutar album ini berkali-kali kayak nyaman aja gitu. Ini sebuah awalan yang sangat baik, dan gw berharap si mas asal UK ini bisa terus mengeluarkan karya-karya keren di masa datang.





Jumat, 29 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2017 (Japan)


Masuk tahun 2017 blantika J-Pop sudah semakin terbuka terhadap penerbitan digital, terbukti dari makin banyaknya artis yang available di aplikasi iTunes dan media-media streaming, bahkan bisa diakses oleh kita-kita yang di luar Jepang. Lumayan, penggunaan bajakan (harusnya) bisa berkurang, walaupun yah, mungkin belum sebanyak yang diinginkan dan jadinya ngulik ke luar garis legal lagi deh, heuheu *penggemar yang sulit terpuaskan*. 

Di sisi lain, hal itu juga bikin gw lebih mudah menemukan item J-Pop yang mungkin selama ini terlewatkan lantaran nggak masuk chart populer atau nggak jadi soundtrack anime atau dorama (sinetron) dan sejenisnya. So, yang laris tetaplah laris, yang agak obscure pun tetap punya kesempatan untuk didengar lebih luas. Itu juga akan tercermin dari senarai 10 lagu Jepang kesukaan gw tahun 2017 berikut ini, yang beberapa diisi oleh artis-artis yang gw nggak pernah dengar sebelumnya tapi jadi tahu gara-gara follow sebuah playlist di Spotify, hehe.





10. "奇蹟 (Kiseki)" – Uru

Salah satu lagu yang gw temukan di playlist Spotify, yang terdengar sangat familier buat gw karena musiknya kentara sekali diaransemen oleh the one and only fusion jazz genius Keiichi Tomita (kalau ingat "Will"-nya Mika Nakashima, "Everything"-nya Misia, "One"-nya AI, atau "Canvas"-nya Ken Hirai), dan itu saja kayaknya cukup untuk gw masukkan dalam deretan terfavorit =D. Lagu lembut dari si mbak bersuara lembut, meski lapisan-lapisan musiknya kompleks, tetap nyaman didengar.








9. "球状" –  印象派 ("Kyujo" – INSHOW-HA)

Duo wanita yang mengusung musik yang masuk kategori alternatif—dikontraskan dengan sugar-y style khas J-Pop, pembawaan lagu yang mellow seperti "Kyujo" ini pun tidak lantas mendayu-dayu. Oh iya ini juga nemunya di Spotify =D.








8. "ピースサイン" –   米津玄師 ("Peace Sign" – Kenshi Yonezu )
Penasaran sama performa lagu ini yang bertahan cukup lama di berbagai chart Jepang, akhirnya gw coba mendengarkan. Karakter vokalnya sih bukan tipe favorit gw, tetapi memang lagu ini catchy gila. Susunan nadanya agak klasik anime (dan memang ini lagu tema sebuah seri anime TV My Hero Academia) dikemas dalam gaya pop-rock yang enerjik dan kini.








7. "Family Song" –星野源 (Gen Hoshino)

Gen Hoshino kali ini makin meng-embrace gaya Motown 1960-an, kali ini dengan irama lebih santai, lebih groovy, dan lebih kerasa megahnya. And that crazy music video








6. "フラッグを立てろ (Flag wo tatero)"  – YUKI

Mantan vokalis Judy and Mary ini menelurkan single terbaru yang sangat pantas disambut hangat. Sebuah lagu ceria dengan dominasi bunyi melodik gitar yang bikin mood enak, sekalipun dinyanyikan oleh Yuki yang vokalnya masih aja kayak alien. 








5. "灯り" – ストレイテナー×秦 基博 ("Akari" – Straightener x Hata Motohiro)

Lagu ini ibarat irisan dari himpunan karakter musik Straightener yang alternative rock dengan Hata Motohiro yang pop-tapi-bisa-ngerock. Makanya, lagu ini jadi benar-benar mewakili kedua artis ini dengan sempurna. Cukup mellow, namun instrumen yang all-out, ketukan 3/4 dan vokal powerful bikin lagu ini bukannya menyeret-nyeret, malah bikin hangat dan bikin semangat.








4. "Forevermore" – 宇多田 ヒカル (Utada Hikaru)

Melanjutkan fase "lagunya udah nggak yang aneh-aneh lagi" dari karier Utada Hikaru, tahun ini doi meluncurkan single yang menggabungkan irama drum jazz dengan alunan melodi pop catchy dan sokongan string section dan organ yang kental. Well, masih agak aneh sih untuk ukuran "lagu pop", tentu saja dengan belokan-belokan kord minor yang kerap ditemukan di lagu Utada manapun. Namun, percampuran itu memunculkan rasa dan excitement, yang dapat diterima oleh telinga dengan mulus tanpa perlawanan.








3. "打上花火 (Uchiage hanabi)" – DAOKO x Kenshi Yonezu

Mungkin salah satu lagu yang hit di Jepang tahun ini, setidaknya dari kehadirannya di dunia maya. Love ballad persembahan dua penyanyi muda yang lagi naik daun ini memunculkan atmosfer manis lewat chorus-nya yang mudah sekali disenandungkan, sekaligus memancarkan energi lewat aransemen musiknya yang digerakkan oleh denting piano serta dipengaruhi unsur rock dan hiphop, membuatnya tetap terdengar light. Popularitasnya bisa jadi terdorong oleh statusnya sebagai lagu tema film animasi Fireworks yang juga cukup sukses di sana (sempet juga tayang di bioskop Indonesia), tapi tanpa itu pun lagu ini kayak udah diciptakan untuk gampang dapat tempat di playlist sehari-hari.








2. "記憶の破片 feat. 原田郁子 (clammbon) (Kioku no hahen featuring Ikuko Harada of clammbon)" – NONA REEVES

Lagi-lagi sebuah lagu yang nyelonong di pendengaran gw secara random di Spotify, dari artis yang gw nggak pernah dengar tapi ternyata udah eksis lebih dari satu dekade. NONA REEVES adalah band pop-rock dengan sentuhan funk, which is something I usually like. Kali ini sound tadi diimplementasikan ke lagu easy listening yang nggak terlalu mellow dan dibawakan dalam duet vokal yang ditata harmonis--sekalipun vokalnya masing-masing nggak bagus-bagus amat tapi harmony is always a good thing. Ada nuansa ballad 80-90-an yang menciptakan atmosfer sendu, namun permainan nadanya mampu memberi efek emosionil. Klasik tapi tak pernah kuno.











1. ノンフィクション – 平井堅 ("Nonfiction" – Ken Hirai)

Ken Hirai sebenarnya nggak pernah meninggalkan root-nya di urban-R&B pop, tetapi selalu menarik setiap kali dia mencoba warna musik baru....menarik karena kadang hasilnya bagus dan kadang nggak =P. Untungnya, percampuran terbaru Hirai di "Nonfiction" menurut gw sangat berhasil. Dengan lirik yang berderet cukup banyak, lagu ini disajikan dalam gaya folk rock--lengkap dengan  kehadiran harmonika =D, yang memberi kesan gritty, tetapi dengan range notasi yang lebar dan dinamis, dan sangat catchy, lagu ini tetap memunculkan gaya menyanyi soulful khas Hirai. Probably his best work in recent years.








Kamis, 28 Desember 2017

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2017 (Indonesia)


Selanjutnya di senarai akhir tahun 2017 ini adalah lagu-lagu Indonesia. Agak berbeda dari senarai sebelumnya, pola penemuan lagu-lagu Indonesia kali ini cukup beragam. Kebanyakan gw denger dari radio, tapi nggak sedikit juga nemunya di aplikasi streaming, sampai soundtrack film yang gw tonton. Sila...






10. "Kutunggu Kabarmu" – Maudy Ayunda

Udah cukup lama Maudy jadi singer-songwriter, gw kayaknya nggak pernah dengar dia se-kontemporer ini. Paduan pop-R&B irama medium elektronika--agak-agak Charlie Puth gimana gitu--rupanya cocok juga sama suara nasal beningnya.








9. "Nada Cinta" – Isyana Sarasvati

Track favorit gw dari album barunya Isyana adalah lagunya yang tersantai ini. Yang paling nyantol di gw adalah bagaimana chorus-nya justru ditutup dengan deretan notasi low. Ini menarik baik karena agak nggak lazim di lagu pop, tetapi juga ternyata bisa menunjukkan range vokal Isyana yang jarang ditunjukkan.








8. "Terasa Nyaman" – Abirama
Melanjutkan kesenangan gw sama lagu-lagu pop yang dipengaruhi jazz dan groove, maka no brainer gw gampang banget menerima lagu ini. Ada kesejukan tersendiri dalam pilihan kord dan iramanya yang santai, dan vokal Abirama yang nggak terlalu show-y juga bikin lagunya tambah asyik.








7. "Sang Penghibur" – RAN

Ketika RAN hendak mewakili suara pengamen jalanan. Gw suka mereka di album terbarunya semakin berkembang di bagian lirik, dan menurut gw lagu ini adalah salah satu hasil terbaiknya. Sederhana, straightforward, enak tuturnya, dan enak juga musiknya yang kayak terinspirasi artis-artis seperti Gombloh *eaak, umur…*








6. "Buktikan" – Yura Yunita

Gw akui gw agak missed sama karakteristik unik Yura saat  dia meluncur di blantika musik beberapa tahun lalu. Semakin ke sini, semakin disadari bahwa warna dan akrobat vokal Yura justru sangat versatile, dan semakin terbukti karakternya sama sekali nggak hilang ketika dipasang di lagu R&B playful khas akhir 90-an seperti lagu ini.








5. "Belahan Jantungku" – Andien

Gw akhirnya menemukan lagu Tulus yang benar-benar gw suka. Namun, ternyata lagu itu dinyanyikan oleh orang lain, hehe. Nada-nada ganjil Tulus rupanya bisa melebur ke vokal deep Andien dengan aransemen dominan akustik (termasuk bass betot!) menguatkan kesan damai dan adem, serta menonjolkan penjiwaan si penyanyi dan para musisinya.








4. "Manusia" – MALIQ & D'Essentials

Band ini sebenarnya doing great dengan sound-nya sekarang yang lebih ke pop eksperimental, tapi tampaknya emang gw akan selalu terpikat pada sound pop-funk-jazz mereka yang lebih dahulu. Lagu ini jelas banget mengingatkan pada zaman-zaman "The One" dan "Dia", tetapi kini dengan rangkaian lirik yang begitu puitis dengan makna mendalam.








3. "Berlari Tanpa Kaki" – GAC feat. The Overtunes

Dari pilihan nada dan ketukannya bergaya folk Amerika/Inggris, ketahuan banget anthem motivasi diri ini lagunya The Overtunes. Hanya saja, mendengar nada-nada ini keluar dari vokal GAC—yang kali ini "ornamen akrobatik" vokal-nya agak diredam—justru menimbulkan efek yang lebih dramatis. Aransemennya stripped down, unplugged, tanpa bunyi-bunyi instrumen aneh-aneh, hanya adek-adek ini bernyanyi sesuai nada yang ada yang sudah ditata indah.








2. "Akad" – Payung Teduh

Siapa menyangka band yang secara rumus terbilang "sidestream" ini bisa punya satu hit yang menyusup ke setiap ruang kehidupan warga Indonesia sepanjang tahun ini. Can't blame them, nadanya catchy dan liriknya lugas. Bodo amatlah dikata pasaran atau kemakan tren, gw memang juga suka lagu ini. Tetapi lebih dari itu, yang gw paling suka dari lagu ini adalah kemasan aransemennya yang nggak gampangan, mulai dari kesan vintage dari tiupan terompet dan iramanya, string section yang "bermain", hingga pilihan-pilihan kord-nya. Hasilnya adalah sebuah lagu yang hangat, mudah diterima telinga, namun masih menunjukkan keterampilan mumpuni.












1. "Zona Nyaman" – Fourtwnty

Saat dikaitkan dengan film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody, yaitu kisah dua sahabat membangun usaha impian bersama, lagu ini memuat spirit itu. Ketika didengarkan secara lepas, entah karena liriknya yang apik, atau karena gw-nya yang baper, lagu ini seakan mewakili suara hati, atau setidaknya mewakili suatu masa yang pernah dialami sebagian besar orang. Pengisahannya mengenai kegelisahan pada kungkungan rutinitas seolah mengajak gw untuk bilang "Amin" =D. Di sisi lain, nada dan bungkusan musik akustik yang santai juga seperti menggambarkan bahwa kegelisahan itu tidak perlu dipikirkan terlalu keras, asalkan menemukan cara, atau tempat yang tepat, untuk bisa berkarya bersama hati *ciailah*. Selain karena nadanya catchy juga sih.







Year-End Note: My Top 10 Songs of 2017 (International)

Heyho...mari kita mulai gelaran senarai-senarai akhir tahun. Dengan berbagai perubahan ritme hidup yang berpengaruh pada frekuensi ngeposting di blog ini *heuheu*, gw bertekad harus tetap mempertahankan tradisi Year-End Note, karena bagaimanapun gw masih perlu catatan tentang hal-hal yang gw anggap berkesan setiap tahunnya di bidang musik dan film, which is kind of the point of this blog. Jadi, yuk, dimulai dari lagu-lagu internasional kesukaan gw sepanjang tahun 2017 ini.


Sedikit disclaimer sebentar, cara gw mendapatkan musik-musik baru di 2017 praktis agak berubah, berhubung gw jadi sering juga dengerin aplikasi streaming musik, walau sebagian sih tetap nemunya lewat dengerin radio. 10 lagu berikut ini adalah yang menjadi kesukaan gw, yang menurut gw bagus dan enak sepanjang tahun 2017. Maunya sih secara "administratif" lagu-lagu ini dirilis dalam rentang waktu satu tahun belakangan, tapi ya berhubung rilis di tiap negara 'kan beda-beda dan sebagainya *halah alesan*, jadi gw masukkin aja deh yang rada cheating, entah lagunya dirilis akhir November tahun lalu ataupun album yang memuat lagu tersebut baru dirilis tahun ini. Hehe. He.


Alright, berikut adalah 10 lagu internasional (non-Indonesia dan non-Jepang) paling oke menurut gw di tahun 2017.




10. "Still Feel Like Your Man" – John Mayer

Heran juga kenapa lagu ini tidak lebih nge-hit. Oh, mungkin karena terlalu ngepop untuk ukuran Mayer, hehe. Terlepas dari chorus yang terkesan repetitif dan ringan bak ciki, nyatanya terdengar juga belokan melodi dan kord funk-y dan blues-y yang nggak semua artis pop kontemporer bisa kepikiran.







9. "New Rules" – Dua Lipa

Dua Lipa itu punya pesona yang janggal. Orangnya cuantik, tapi aksi panggungnya canggung kayak baru belajar jadi artis, tapi lagi vokalnya sangat kuat dan artikulasinya jelas. Somehow karakter itu paralel dengan lagu ini. Iramanya dance-able tapi melodinya nggak ceria, liriknya lucu tapi ada ketegasan dari pembawaan vokalnya. Janggal 'kan?







8. "No Lie" – Sean Paul feat. Dua Lipa

Sungguh gw nggak pernah tahu pasti apa yang diomongin Sean Paul dalam lagu-lagunya, namun berkat olahan musik pop-dance-reggae-nya, hook-nya yang sangat catchy dibawakan Dua Lipa, serta semangatnya dalam menuturkan ocehan membuat lagu ini mudah nyantol ke gw. 







7. "Talking to Myself" – Linkin Park

Mungkin satu-satunya lagu dengan persentase unsur rock terbesar dalam album barunya Linkin Park, namun juga not quite like the 'Linkin Park' many imagined. Di sini mereka cenderung ke rock tradisional yang nggak terlalu ribet ataupun ribut, dengan tetap berpegang pada hentakan dan melodi yang gampang diingat, dan di saat bersamaan juga bisa mengarahkan perhatian lebih pada liriknya yang punya cerita layak simak.







6. "Touch" – Little Mix

Little Mix adalah girl group yang paling bisa gw nikmati saat ini, terutama karena ada keseimbangan antara aksi yang heboh dengan ketangkasan vokal plus lagu yang actually sound like a 'song'. "Touch" hampir saja terjebak pada lagu hore-hore jogedan dengan satu bagian diulang-ulang-ulang-ulang *uhuk*, untungnya di sini yang namanya melodi dan harmoni masih diberi tempat terhormat.







5. "I Feel It Coming" – The Weeknd feat. Daft Punk

Nggak perlu disangkal bahwa kesan ngeres bisa timbul dari lagu ini =P. Tapi marilah arahkan fokus pada hal lainnya, bahwa suara bening The Weeknd, notasi yang tak terkungkung oleh kord yang itu-itu aja, ditemani irama elektronika santai Daft Punk, mampu menghasilkan sebuah lagu yang intim dan membuai. 







4. "Say It Again" – Frances

Inilah item curang (1) gw di senarai tahun ini =D. Single-nya udah dirilis pertengahan 2016, tapi gw masukin di tahun ini karena emang gw baru nemunya tahun ini, dan toh ada dalih legalitas bahwa album yang memuat lagu ini baru dirilis tahun 2017 =P. Anyway, senang sekali bisa menemukan sebuah lagu pop ballad murni yang sederhana tetapi penuh rasa. Nggak macem-macem, hanya bermodalkan penataan notasi yang cakep dan aransemen sejuk, dan vokal agak husky mbak Frances yang bikin makin syahdu.







3. "Human" – Rag'n'Bone Man

Item curang (2--dengan alasan yang sama dengan Frances) ini nyangkut di gw setelah lihat cuplikan di Brit Awards 2017, dan setelah dikulik-kulik di dunia maya, dan putar ulang-ulang, mengonfirmasi betapa kerennya lagu ini. Sekilas lagunya kayak cerita klise tentang kelemahan si penutur "ku hanya manusia biasa uwouwo", namun ada kedalaman dari rangkaian kata yang tersusun, yang disematkan dalam nada-nada dan dalam aranseman yang soulful, membuatnya terasa lebih merasuk.







2. "Shape of You" – Ed Sheeran

Ya, ketika lagu ini terlalu sering diputar di radio, TV, minimarket, kedai kopi, kedai indomie, kedai sate taichan, konter pulsa, dan tempat-tempat lainnya, mungkin efeknya akan bikin eneg. Namun itu nggak membuat gw lupa bahwa lagu yang (kayaknya) cuma pakai empat macam kord saja ini bisa terangkai jadi sebuah hit yang dinamis, asyik, rancak, dan mampu berkumandang begitu luas. Jadi nggak usahlah sok cool dan menyangkal-nyangkal, lagu ini memang bagus dan enak kok. Dan, untunglah di trimester akhir tahun ini frekuensi putar-di-mana-mana-nya udah digeser sama "Perfect" =P.










1. "That's What I Like" – Bruno Mars

Lagu ini bisa aja dibiarkan cuma beat groovy joget-able dengan lirik nyaris tak bernada, toh di zaman sekarang yang kayak gitu aja udah bisa jadi hit. Untunglah Bruno Mars tetap memberi value lebih di sini, dengan kreasi nada-nada yang playful dan soulful. Bukan hanya bisa bikin joget asoy, tetapi juga bisa dinyanyiin dengan penuh perasaan, itu kombinasi yang agak langka. Ini pun belum membahas berbagai unsur bunyi yang dimasukkan dalam lagu ini—digital beats, synthesizer, bass, harmoni vokal, dll—yang ditata dengan porsi dan timing presisi, sehingga tercipta lapisan-lapisan yang menunjukkan lagu ini bukan asal "what I like". Kerrenn lagu ini.





Jumat, 08 Desember 2017

[Movie] Wind River (2017)

Nonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa sebenarnya, karena buat gw kisah penyelidikan kriminal di layar lebar acapkali rasa dan misterinya, for better or worse, udah kegerus sama maraknya sajian serupa di TV (yang Amerikah sih, bukan di sini =p). Namun, Wind River langsung merenggut perhatian sejak awal menunjukkan lokasi, latar sosial, dan kasus kriminalnya. Film ini mengulik kejahatan yang berpotensi tak terdokumentasi, alih-alih terpecahkan, dari tewasnya seorang gadis remaja berdarah Indian di kawasan lindung yang memang dikhususkan untuk kaum suku asli benua Amerika itu. Tak hanya menarik karena gw cukup jarang lihat gambaran pedalaman Amerika kontemporer yang medannya seberat ini--dataran tinggi jauh dari mana-mana yang sering badai salju, tetapi juga terkejut dengan prosedur penegakan hukumnya yang cukup kompleks.

Lebih lagi, film ini menuturkannya dengan sensible dan emosional, terutama dari sudut pandang tokoh ranger yang dihantui duka karena pernah mengalami kasus serupa, dan penyelidik FBI yang agak anak kemarin sore tetapi bertekad kuat. Tanpa harus meledak-ledak dan bombastis, tetapi tidak juga lelet lunglai bikin terlelap, adegan demi adegan dirangkai dengan perhitungan yang teliti, sehingga gw mengerti konteksnya, gw terbawa untuk ikut mengungkap kebenaran kasusnya, dan gw peduli sama tokoh-tokohnya, tanpa  harus terasa lajunya dalam bercerita tersendat. Segala unsur film ini--termasuk adanya beberapa baku tembak yang cukup brutal--ditampilkan dengan presisi, mampu menunjukkan kedalaman yang lebih dari sekedar memecahkan kasus kriminal, dan sekaligus mampu membangun intensitas yang...well, entah gimana caranya kok bisa, sekalipun banyak adegan senyap tapi emosinya terasa bergemuruh.


Wind River
(2017 - Voltage Pictures/Acacia Entertainment/The Weinstein Company)

Written & Directed by Taylor Sheridan
Produced by Basil Iwanyk, Peter Berg, Matthew George, Wayne Rogers, Elizabeth A. Bell
Cast: Jeremy Renner, Elizabeth Olsen, Jon Bernthal, Gil Birmingham, Julia Jones, Graham Greene, Martin Sensmeier, Kelsey Chow, Eric Lange
My score: 7,5/10

[Movie] Pengabdi Setan (2017)

Joko Anwar bikin film lagi, I'm like yeaaah. Filmnya remake horor klasik, I'm like oh shoot gak demen horor pun gw -_-'. Bukannya gimana-gimana, gw yakin Mr. Joko mampu menyajikan horor yang bagus, sebagaimana pernah ditunjukkan dalam film-film macam Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali yang notabene punya elemen horor. Tapi, saking yakinnya gw jadi siap nggak siap untuk "menghadapi" karya beliau yang murni horor, Pengabdi Setan. Pada akhirnya harus gw lakukan juga, dan ekspektasi enak nggak enak itu terbayar, and more. Ceritanya memang kayak "cuma" tipikal kisah rumah hantu. Kali ini empat kakak beradik yang ditinggal wafat oleh ibunya dan ditinggal rantau oleh bapaknya harus jaga rumah yang gitu deh. Namun, film ini dengan sangat bagus sekali menggulirkan misteri yang membuatnya tidak sekadar film rumah berhantu saja. Penuturannya begitu lancar, mitologi dan rules-nya dibangun rapat dan menyeluruh, karakternya dipaparkan dan dilakonkan dengan interesting sehingga bikin peduli dan keinget terus, misterinya juga banyak yang di luar dugaan, sekalipun tanpa harus pakai twist yang centil melilit-lilit. 

Awalnya gw juga heran, dengan alur cerita yang sebenarnya cukup straightforward--termasuk wajib hadirnya sesosok pihak ketiga yang (seperti) tahu segala penyebab dan cara penyelesaian segala hal--tapi kenapa bisa se-gripping ini, kenapa bisa bikin terus terpaku dan memancing naik turun emosi. Jawabannya ternyata simpel saja: keterampilan. Seram bukan karena banyak penampakan setannya, melainkan seram karena ekspektasi gw dipermainkan. Bikin pingin pantengin terus bukan karena rentetan adegan horor bertubi-tubi, melainkan karena pemaparan karakter, cerita, dan worldbuilding-nya yang rapi, dan yang diikat oleh sesuatu yang namanya timing. Timing seram, humor, drama, hingga suspense, semuanya tepat sasaran dan tepat porsi, tanpa sedikit pun terkesan mureh. Dan, yea, tentu saja banyak banget momen gw ketakutan pas nonton ini, huft..., tapi ketimbang lelah, yang gw rasakan adalah excitement, sensasi seyogianya didapat dari film horor yang baik dan berbobot.


Pengabdi Setan
(2017 - Rapi Films/CJ Entertainment)

Written & Directed by Joko Anwar
Based on the film Pengabdi Setan (1980)
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Anuz, Muhammad Adhiyat, Ayu Laksmi, Dimas Aditya, Arswendy Bening Swara, Elly D. Luthan, Fachri Albar, Asmara Abigail
My score: 8/10